Generasi Muda Bangsa


A. Rumusan Masalah

1. 1. Mengapa generasi muda lebih condong pada budaya barat daripada budaya asli bangsa Indonesia?

2. 2. Apa saja akibat dari sikap generasi muda yang demikian itu bagi bangsa Indonesia sendiri?

3. Usaha-usaha apakah yang harus kita lakukan bersama untuk menanggulangi hal tersebut?

B. Pembahasan Masalah

1. Mengapa generasi muda lebih condong pada budaya barat daripada budaya asli bangsa Indonesia?

Kebudayaan asing disini khususnya kebudayaan dari negara-negara maju atau Barat yang memengaruhi sejumlah besar masyarakat dan kebudayaan di dunia ini. Kenaikan daya tarik kebudayaan asing adalah fenomena baru yang berhubungan erat dengan media massa melalui musik pop dan film-film populer yang ditayangkan dengan kesan bahwa cara hidup ini adalah mewah, keren dan trendi. Sebagai akibatnya, banyak orang terpikat oleh gaya hidup ini yang berasal dari negara-negara Barat itu karena mereka percaya “kalian bisa menikmati cara hidup seperti ini.”

Budaya lahir karena faktor kebiasaan, tetapi ketika kebiasaan itu sirna sedikit demi sedikit, budaya itu juga akan mengikuti dengan berbanding lurus. Globalisasi, mungkin juga merupakan salah satu penyebabnya, karena dengan era globalisasi ini kita dituntut untuk bersaing, kita dituntut untuk terus survive, dan dengan kebutuhan-kebutuhan itulah barang kali budaya dianggap sudah tidak lagi bisa digunakan untuk terus survive. Jadi kebudayaan itu lama kelamaan akan menghilang.

Kita tidak perlu mengingkari bahwa rusaknya karakter bangsa mungkin secara tidak langsung disebabkan oleh krisis, tetapi bahwa akar permasalahannya ada pada diri manusia Indonesia itu sendiri. Bukan tidak mungkin apa yang telah kita lakukan selama ini juga merupakan penunjang dari “hilang”-nya jati diri dan rusaknya karakter bangsa. Apabila kita cermati, ternyata sejak 60 tahun terakhir, di Indonesia tidak lagi dilakukan apa yang disebut membangun karakter, bahkan cenderung diabaikan.

Keterpurukan kita sebagai bangsa saat ini bukan semata-mata disebabkan oleh faktor eksternal—semisal pengaruh ekonomi global, politik, dan hukum—tetapi yang tak kalah besar pengaruhnya adalah faktor internal. Faktor manusia Indonesia itu sendiri.
Apakah yang salah dari manusia Indonesia? Secara umum, tampaknya tak ada masalah, bahkan bangsa ini cukup banyak menampilkan orang-orang yang cerdik dan pandai. Manusia Indonesia tidak bermasalah dengan IQ atau otaknya, tetapi tampaknya tidak demikian dengan hati nurani yang mencerminkan karakter dan jati dirinya.

Suka tidak suka, inilah kenyataan-kenyataan yang sedang kita alami, yang menunjukkan “hilangnya” jati diri individu-individu manusia Indonesia yang berakibat luntur dan rusaknya karakter bangsa Indonesia dan luntur atau “hilang”-nya jati diri bangsa.

2. Apa saja akibat dari sikap generasi muda yang demikian itu bagi bangsa Indonesia sendiri?

Pembangunan membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan hidupnya. Serentak dengan laju pembangunan, terjadi pula dinamika masyarakat. Terjadi perubahan sikap terhadap nilai – nilai budaya yang sudah ada. Terjadilah pergeseran sistem nilai budaya yang membawa perubahan pula dalam hubungan interaksi manusia dalam masyarakatnya.

Pengaruh barat secara umumnya boleh didefinisikan sebagai gerakan pembaratan dan penjajahan fikiran yang dilancarkan kepada sesebuah negara yang mempunyai tujuan yang nyata yaitu menundukkan negara itu kepada kuasa imperialis dengan meleburkan nilai-nilai, memesongkan pengertian agama dan memusnahkan tunjang dan asas-asas penting yang menjadi amalan dan pembentukan keperibadian seseorang. Akibatnya, mereka akan kehilangan identitas. Mereka akan menghayati budaya dan cara hidup barat dalam kehidupannya . Ringkasnya, pengaruh barat adalah segala budaya yang bertentangan dengan nilai-nilai dan norma budaya yang bertunjangkan kepada agama masyarakat setempat. Pengaruh ini bukan saja meusak jati diri seseorang itu, tapi juga menyebabkan akidahnya menjadi goyah. Misalnya, pengaruh seks bebas, homoseksual, black metal, punk, hedonisme, skin head, dan sebagainya.

Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.

Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Padahal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.

Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung cuek tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan. Karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan sehingga mereka bertindak sesuka hati mereka. Contoh riilnya adanya geng motor anak muda yang melakukan tindakan kekerasan yang menganggu ketentraman dan kenyamanan masyarakat.

Jika pengaruh-pengaruh di atas dibiarkan, mau apa jadinya genersi muda tersebut? Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri .

3. Usaha-usaha apakah yang harus kita lakukan bersama untuk menanggulangi hal tersebut?

Ada suatu premis di dalam character building yang mengatakan bahwa character building is a never ending process, yang artinya bahwa pembangunan karakter dilakukan sejak kita masih berupa janin di dalam kandungan sampai saat kita menutup usia. Oleh karena itu, pembangunan karakter dalam kehidupan kita dapat dibagi dalam tiga tahapan pembangunan karakter, yaitu pada usia dini (tahap pembentukan), usia remaja (tahap pengembangan), dan saat dewasa (tahap pemantapan).

Pembentukan karakter pada usia dini sangat krusial dan berarti sangat fundamental karena di sinilah paling tidak ada empat koridor yang perlu dilakukan, yaitu menanam tata nilai, menanam yang “boleh dan tidak boleh” (the does and the don’t), menanam kebiasaan, serta memberi teladan.

Keempat koridor ini dimaksudkan untuk mentransformasikan tata nilai dan membentuk karakter anak pada usia dini sehingga tidak mungkin hanya dilakukan oleh seorang pembantu. Ironisnya, dalam kehidupan modern ini, pembantu justru menjadi lingkungan (pengaruh) terdekat selama paling tidak 12 jam sehari dan lima hari seminggu. Maka, kita tidak perlu sakit hati bila muncul cibiran yang mengatakan bahwa karakter anak-anak kita justru lebih mirip dengan karakter pembantu.

Kondisi pendidikan formal di negeri juga tak kalah runyamnya. Anak didik kita lebih sebagai “kelinci percobaan” bagi berbagai eksperimen kebijakan ketimbang sebagai anak bangsa yang harus dikembangkan karakternya.

Pembangunan karakter harus dilanjutkan pada tahap pengembangan pada usia remaja. Sayangnya, lingkungan dan kondisi masyarakat kita sangat tidak kondusif untuk mencapai tujuan pembangunan karakter. Hal ini dapat kita kaji lewat keempat koridor tadi.

Lemahnya kondisi sosial masyarakat yang mendukung tahap pengembangan menyebabkan terganggunya tahap pemantapan. Apa yang akan dimantapkan jika dalam tahap pembentukan dan pengembangan yang tumbuh adalah low trust society (masyarakat yang saling tidak memercayai, tidak ada saling menghargai) yang menunjukkan tidak terbangunnya karakter secara baik dalam kehidupan kita berbangsa dan bernegara.

Perlu diingat, sebuah bangsa akan maju dan jaya bukan disebabkan oleh kekayaan alam, kompetensi, ataupun teknologi canggihnya, tetapi karena dorongan semangat dan karakter bangsanya. Dalam hal ini contohnya antara lain di Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan sebentar lagi di Vietnam. Atau, dapat disimpulkan bahwa bangsa yang didorong oleh karakter bangsanya akan menjadi bangsa yang maju dan jaya. Sementara bangsa yang kehilangan karakter bangsanya akan sirna dari muka bumi.


PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat kami simpulkan bahwa :

1. Remaja lebih condong pada budaya barat daripada budaya asli bangsa Indonesia karena :

a. Tuntutan persaingan globalisasi.

b. Terpikat gaya hidup mewah, keren, dan trendy.

c. Faktor kemiskinan dan pengangguran.

d. Pengaruh ekonomi global, polotik, dan hukum yang besar.

e. Pembangunan karakter pemuda bangsa yang terabaikan.

f. Adanya anggapan bahwa budaya Indonesia itu ketinggalan jaman.

g. Partisipasi yang rendah untuk melestarikan budaya bangsa.

2. Sikap generasi muda yang demikian itu berakibat antara lain :

a. Hilangnya jati diri bangsa.

b. Lahirnya generasi muda yang anarkis.

c. Terjadi pergeseran sistem nilai budaya bangsa.

d. Jatuhnya moral generasi muda.

e. Berkurangnya rasa nasionalisme.

f. Berkurangnya rasa kepedulian terhadap masyarakat.

3. Usaha-usaha yang harus kita lakukan bersama untunk menanggulangi hal tersebut antara lain :

a. Menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan keseharian dan membangun karakter keluarga, lingkungan, dan bermuara pada karakter bangsa.

b. Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.

c. Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.

d. Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.

e. Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Jamli, Edison dkk.Kewarganegaraan.2005.Jakarta: Bumi Akasara

Krsna @Yahoo.com. Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.2005.internet:Public Jurnal

www.wikimu.com. Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai-Nilai Nasionalisme.2008.internet:Public Jurnal

isdstai.blogspot.com. Ilmu Sosial Dasar:Pengaruh Budaya Barat.2009.internet:Public Jurnal

cahndeso.ngeblogs.com. Pengaruh Budaya Barat.2010.internet:Public Jurnal

Iklan

One response to “Generasi Muda Bangsa

  1. Betul tu……
    semoga generasi muda kita sadar dan mau melestarikan budaya bangsanya sendiri sehingga bangsa indonesia dapat lebih baik dari sekarang ini.
    Amiieeeen…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s