Setetes Air Bersih untuk Generasi Kita


Kompetisi Web Kompas Muda & AQUA

Kompetisi web Kompas Muda & AQUA – It’s about Us: Air untuk Masa Depan. Itulah tema yang diangkat dalam kompetisi yang diadakan oleh www.mudaers.com. Sebuah tema yang tidak asing bahkan cukup familiar di telinga kita, tetapi cukup menantang bagi pesertanya, termasuk saya.

Meskipun saya adalah blogger pemula, saya sangat tertarik mengikuti lomba ini. Sebuah Kontes SEO yang merupakan pengalaman pertama bagi saya. Apalagi dengan tema air. Saya dapat berkreasi dengan artikel saya dan mengeluarkan unek-unek saya tentang pentingnya air.

Air. Siapa yang tak mengenalnya. Zat yang merupakan penyusun utama tubuh manusia ini adalah kebutuhan utama manusia. Makhluk bumi yang pertama ada pun berasal dari air. Meskipun evolusi terus terjadi, peran penting air benar-benar tak tergantikan.

Kompetisi Web Kompas Muda & AQUAIndonesia. Ya, negeri bahari kita tercinta ini didominasi oleh wilayah perairan. Tapi tahukah kita ada beberapa daerah di nusantara yang kekurangan air bersih? Sungguh ironis memang. Di Negara yang gemah ripah loh jinawi ini masih saja ada daerah yang kesulitan air bersih. Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat adalah contohnya. Jarak puluhan kilo harus ditempuh penduduknya hanya untuk memenuhi kebutuhan air keluarga.

Melihat hal ini PT AQUA Indonesia hadir di tengah-tengah mereka. Dengan program 1 Liter untuk 10 liter, AQUA membantu daerah-daerah di nusantara yang kesulitan air bersih. Pembangunan sumur ledeng beserta petugas pemeliharaannya AQUA berikan untuk membantu krisis air di daerah tersebut. Sebuah program yang positif dan disambut hangat oleh masyarakat Indonesia.

Kompetisi Web Kompas Muda & AQUABagaimana dengan kita? Apakah kontribusi yang sudah kita berikan untuk saudara kita? Apakah kita sudah cukup bijaksana dalam menggunuakan air? Atau kita hanya menggunakan air tanpa berpikir tentang kelestariannya di masa depan?

Menggunakan air secukupnya untuk keperluan sehari-hari kita seperti, mandi, mencuci, memasak, dan lain-lain. Tidak malukah kita berboros-boros air sedangkan sebagian saudara kita berjuang untuk air? Dengan kemauan yang keras marilah kita berjuang untuk lestarinya air di masa depan. Setidaknya dengan memulai dari hal kecil, kita telah melestarikan air bersih untuk anak cucu kita. Meskipun cuma setetes.

Kebiasaan mulia ini harus senantiasa kita tanamkan dalam keluarga sejak sekarang. Tentunya kita tidak akan menunggu sampai hidup kita kekurangan air, bukan? Bila hal itu sudah terlanjur terjadi, mampukah kita mengembalikan air bersih yang sudah langka?

Maka dari itu, mari kita bersama-sama melestarikan air. “Setetes air bersih yang kita hemat adalah sangat berharga demi generasi kita”, sepertinya pandangan itulah yang harus selalu kita genggam erat demi mewujudkan air bersih yang lestari untuk masa depan anak cucu kita.

Hidup untuk Menjaga Air


Kompetisi Web Kompas Muda & AQUA

Kompetisi Web Kompas Muda & AQUA – Ya. Lomba yang setiap tahun diadakan oleh www.mudaers.com ini tak pernah sepi peserta. Termasuk loba tahun ini. Dengan tema It’s about us: air untuk Masa Depan, ratusan peserta sangat antusias mengikuti lomba ini.

Tema air sepertinya selalu relevan untuk diperbincangkan dalam zaman modern ini. Terlebih lagi ketika dunia dihadapkan dengan pemanasan global, belahan dunia yang termasuk daerah tropis tentu akan mengalami permasalahan terkait dengan air. Dengan tema air ini, akan terungkap betapa pentingnya air untuk masa depan.

Air. Siapakah yang tak kenal air. Hampir seluruh organism di planet biru ini membutuhkan air sebagai kebutuhan utama. Bahkan hampir mustahil sebuah organisme dapat hidup tanpa air yang cukup terutama manusia. Dengan dua per tiga bagian tubuh manusia yang terdiri dari air, kita tahu bahwa air adalah zat utama yang dibutuhkan manusia.

Negara bahari Indonesia. Seluruh dunia sudah tahu bahwa negeri kita ini sangat kaya. Air, tanah, tumbuhan, sumbe daya alam, keanekaragaman fauna, dan kekayaan alam lainnya. Subur dan makmur adalah sebuah anugerah Yang Maha Kuasa.

Tapi tahukah kita meskipun air melimpah di negeri ini, masih saja ada daerah yang kesulitan air bersih. Pemerintah sendiri sudah maaksimal dalam menangani masalah ini. Namun PDAM sendirian tidak akan mampu memberikan pelayanan yang terlalu besar untuk seluruh wilayah Indonesia.

Kompetisi Web Kompas Muda & AQUAMelihat hal ini PT AQUA Indonesia ikut membantu pemerintah dalam krisis air bersih. Program 1 Liter untuk 10 Liter telah memberikan kontribusinya bagi bangsa ini. Membantu daerah-daerakekeringanh yang kesulitan air bersih dengan sumur ledeng untuk kebutuhan sehari-hari. Benar-benar sebuah program yang berguna bagi bangsa.

PT AQUA Indonesia telah mengawali langkah baik ini bagi bangsa Indonesia, bagaimana dengan kita? Apakah yang sudah kita beikan untuk bangsa? Apakah kita sudah berusaha melestarikan air bersih atau justru berboros-boros dengan air?

Terkadang kita lupa terhadap keborosan kita dalam memakai air. Kita tidak malu membuang-buang air bersih kita seenaknya. Seakan kita tidak mengerti  bahwa tiap tetes air bersih yang kita sia-siakan adalah air mata bagi saudara kita di daerah lain yang kekeringan.

Kita harus memulai dari diri kita sendiri dan memulai nya dari hal yang terkecil. Menghemat air yang kita gunakan untuk mandi, mencuci, memasak, dan lain-lain adalah contohnya. Melestarikan air mulai dari setetes.

Mungkin usaha kita belum Nampak haslnya. Tetapi anak cucu kita lah yang akan menikmatinya. Mereka akan tahu betapa para pendahulu mereka benar-benar memperhatikan air. Tidak bahagiakah kita tahu bahwa anak cucu kita hidup berkecukupan air?

Oleh karena itu tugas kita selanjutnya adalah semaksimal mungkin menjaga air kita. Menjaga air untuk anak cucu kita. Menjaga air untuk generasi masa depan. Kita tanamkan pada keluarga kita bahwa manusia tidak hanya hidup untuk mengeksploitasi air. Tetapi manusia juga hidup untuk menjaga air.

Pengacara Gugat Kostum Timnas


hemmm… Dapet info aneh-aneh lagi ni. Di saat Timnas Indonesia  sedang on fire, seorang pengacara malah kurang kerjaan ngajuin Timnas ke meja hijau.

Gue ga sengaja dapet ni info dari www.harianberita.com. Berikut beritanya.

Pertandingan semi final Piala AFF 2010 antara Indonesia dan Filipina tinggal menghitung hari.Namun sebelum ajang tersebut dimulai Tim merah putih mendapatkan sedikit masalah hukum.Timnas digugat karena pemakaian lambang Garuda pada kostum bertanding.

Gugatan dilayangkan 14 Desember 2010 ke Pengadilan Negeri Jakarta oleh seorang pengacara David ML Tobing.Ia menggugat karena penggunaan lambang Garuda yang ada di kostum Timnas.

Dilansir dari vivanews alasan David menggugat”Hal itu melanggar UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan,” kata David di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Dalam Pasal 52 dijelaskan lambang negara dapat digunakan sebagai lencana atau atribut pejabat negara, pejabat pemerintah, atau WNI yang mengemban tugas negara di luar negeri.

“Nah, sekarang apakah bertanding termasuk dalam kategori itu,” tambahnya.

Menyangkut masalah ini David mengajukan lima pihak tergugat.Pertama presiden, “Presiden kan meninjau langsung pada saat latihan, harusnya ia melihat lambang itu. Presiden harusnya bertindak, mengambil tindakan,” jelas David.

Tergugat kedua adalah Mendiknas, yang merupakan pihak yang memiliki otoritas dan kewenangan untuk merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis.

Sementara, tergugat ketiga adalah Menteri Negara Pemuda dan Olah Raga. “Tergugat 1 sampai 3 pada dasarnya mengetahui dan menyadari penggunaan lambang negara yang telah dilakukan Tergugat 5, Nike,” kata David.

Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dijadikan tergugat keempat.

Sementara, produsen kostum Timnas, Nike dijadikan tergugat lima. “Karena membuat dan memasarkan kostum Timnas Indonesia yang menggunakan lambang negara,” tambah David.

Dalam gugatannya, David meminta PN Jakarta Pusat memerintahkan Presiden, Mendiknas, dan Menegpora melarang dan melakukan pengawasan seksama penggunaan lambang negara.

Jadilah Pahlawan Bangsa bukan Pengkhianat Bangsa!


Dengan seluruh angkasa raya memuja pahlawan Negara
Tlah gugur remaja diribaan bendera bela nusa bangsa

KAMU semua pasti udah pada nyambung dengan lagu di atas. Yups, tuh lagu wajib yang dinyanyikan setiap penyelenggaraan upacara bendera minimal seminggu sekali tiap hari Senin pagi. Katanya sih, untuk menghormati arwah para pahlawan yang telah berjasa terhadap nusa dan bangsa.

By the way, bulan November gini emang paling asik ngomongin tentang pahlawan. Soalnya tiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia biasanya suka memperingati momen itu sebagai hari pahlawan. Pahlawan kemerdekaan pembela bangsa dan Negara pun dipuja-puja dan disanjung. Bahkan khas Negara nasionalis yang suka mengadakan upacara bendera, mengheningkan cipta bagi arwah para pahlawan juga menjadi menu wajib.

Terlepas dari lirik lagu mengheningkan cipta yang nyerempet pemujaan terhadap para pahlawan secara berlebihan, pada faktanya jasa para pahlawan itu diabadikan Cuma sebatas monument dan museum, nggak lebih.

Pahlawan bangsa dipuja

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Kamu semua pasti pernah mendengar ungkapan tersebut baik di sekolah ataupun di warta berita TV nasional. Alhasil, penghargaan jasa para pahlawan ini diwujudkan dalam bentuk materi berupa patung, monumen, prasasti dan semacamnya. Semua hal tersebut memberi kesan heroik agar bisa ditiru oleh generasi setelahnya.

Upacara tiap hari Senin dan hari-hari besar nasional pun digelar, dalam rangka mengingat jasa para pahlawan dan menumbuhkan semangat nasionalisme di kalangan generasi penerus. Bagi mereka yang mangkir upacara karena satu dan lain alasan, bakal dituduh tidak berjiwa nasionalis dan tidak  menghargai perjuangan para pahlawan. Tapi sesungguhnya, apakah bisa kesetiaan nasionalisme diukur dari rajin enggaknya seseorang ikut uparaca bendera?

Wajah-wajah para pahlawan dicetak dalam bentuk poster kemudian ditempel di dinding-dinding kelas mulai SD sampai SMA. Dianggapnya dengan cara seperti ini jasa para pahlawan itu sudah terbayar lunas. Padahal faktanya generasi muda kita termasuk kamu-kamu semua belum tentu juga mengenal mereka yang dipajang itu. Kenal saja enggak apalagi meneladani perjuangannya. Maka tak heran di kelas saya dulu ketika zaman SMA, foto-foto para pahlawan itu diganti dengan foto-foto penghuni kelas terutama mereka yang memang kepingin sok ngartis. Dan uniknya, tak ada satu guru pun yang protes. Mungkin dianggapnya lebih kreatif karena mereka berpose ibaratnya pahlawan dengan warna hitam putih seolah-olah gambarnya diambil tempoe doeoloe (baca: tempo dulu).

….pahlawan juga banyak yang dibuatkan patungnya. Mereka toh tak pernah meminta untuk dipuja dan dipuji sedemikian rupa. Mereka hanya ingin agar perjuangan yang telah dilakukannya diteruskan dengan sebaik-baiknya….

Tidak itu saja, pahlawan juga banyak tuh yang dibuatkan patungnya. Bukannya menghormati dan menghargai, para pahlawan ini riskan dipuja-puja berlebihan sehingga menghilangkan esensi makna kepahlawanan itu sendiri. Mereka toh tak pernah meminta untuk dipuja dan dipuji sedemikian rupa. Mereka hanya ingin agar perjuangan yang telah dilakukannya diteruskan dengan sebaik-baiknya, bukan malah dinodai dengan menggadaikan negeri.

Pahlawan bangsa dikhianati

Loh, kok? Apa mungkin pahlawan bangsa dikhianati? Tega nian para pengkhianat itu. Yups, coba kamu perhatikan bagaimana para pahlawan bangsa ini dikhianati oleh mereka yang mengaku sok nasionalis.

Perjuangan para pahlawan demi memerdekakan rakyat negeri ini dari penjajahan bangsa asing, penuh dengan pengorbanan darah, harta, airmata bahkan nyawa. Mereka tidak rela harga diri sebagai bangsa dinjak-injak harkat dan martabatnya, sehingga tak ada jalan lain kecuali berjuang. Dan ketika akhirnya perjuangan itu telah membuahkan hasil, ternyata pengkhianat bangsa mengambil alih peranan. Dimulai dari kampanye agar rakyat memilihnya, para pengkhianat ini menggadaikan negeri Indonesia dengan harga murah melalui UU. Di antara UU itu adalah UU migas, UU kelistrikan, dan banyak UU lainnya yang intinya adalah ketundukan terhadap kekuatan asing yang jelas-jelas berniat menjajah Indonesia dalam wajah baru.

….Para pengkhianat ini bersembunyi di balik jas rapi dan berdasi yang kerjanya cuma rapat basa-basi. Sedikit ada peluang untuk memperkaya diri, maka korupsi pun dilakoni….

Para pengkhianat ini bersembunyi di balik jas rapi dan berdasi yang kerjanya cuma rapat basa-basi. Sedikit ada peluang untuk memperkaya diri, maka korupsi pun dilakoni. Gak peduli lagi deh sama rakyat yang mati kelaparan, yang penting keluarga sendiri aman dan sejahtera. Bolehlah sekali-kali terjun ke lapangan berbaur dengan rakyat miskin asal dengan syarat disorot kamera demi keuntungan memperoleh suara bila pemilu datang.

Itulah gambaran Indonesia kini dengan para pejabat yang sok mengaku berjiwa nasionalis dan sok menasehati pentingnya menghargai jasa para pahlawan. Di saat yang sama mereka pula yang menjual bangsa ini pada asing, melakukan korupsi besar-besaran di seluruh lapisan jabatan, menggusur rakyat tak berdaya dan diganti dengan mal-mal modal asing, dll.

Sungguh kasihan para pahlawan kita, jerih payahnya disalahgunakan oleh para pejabat oportunis itu. Darah dan nyawanya ternyata Cuma seharga bangunan fisik gedung-gedung bertingkat atas nama pembangunan. Dimanakah rakyat kecil yang dulu selalu dibela oleh para pahlawan itu? Ternyata rakyat yang dicintai oleh para pahlawan itu tinggal di kolong jembatan, berlari-lari dikejar satpol PP, bayi-bayi yang busung lapar,

Ayo, hargai jasa pahlawan!

Menghargai jasa pahlawan bukan Cuma bisa dilafalkan di mulut atau hanya berbentuk seremonial belaka dengan mengheningkan cipta pada upacara bendera. Menghargai jasa para pahlawan adalah pertama mula meluruskan sejarah bangsa yang banyak dibelokkan demi kepentingan golongan tertentu saja, utamanya sih yang sedang berkuasa pada saat sejarah ditulis. Sudah saatnya kebohongan public mulai dibongkar dan kebenaran ditunjukkan ujud nyatanya.

….Bung Tomo tidak semata-mata membela bangsa dan Negara saja. Lebih dari itu, mengusir penjajah dari bumi tempatnya berpijak adalah sebuah kewajiban dan kesadarannya dalam berakidah Islam….

Bung Tomo dengan suaranya yang menggelegar dan menggugah semangat berjuang arek Suroboyo, tidak semata-mata melakukan itu semua demi membela bangsa dan Negara saja. Lebih dari itu, mengusir penjajah dari bumi tempatnya berpijak adalah sebuah kewajiban dan kesadarannya dalam berakidah Islam. Jika bukan karena dorongan Islam, mengapa pula Bung Tomo bersusah-payah memekikkan takbir sebelum menyerang musuh?

Pahlawan yang lain demikian pula. Mulai dari nama-nama sekaliber Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro, Cut Nyak Dien, Ki Ageng Tirtayasa, dll berjuang melawan penjajah bukan semata-mata membela bangsa dan Negara. Islam adalah motivator utama ketika akidah dan syariah yang saat itu menjadi peraturan kerajaan-kerajaan Islam di nusantara, diinjak-injak oleh para imperialis Belanda. Hal inilah yang seringkali disembunyikan dari kita, seolah-olah kesan yang ditimbulkan adalah para pahlawan itu sangat nasionalis sekali perjuangannya.

Pada faktanya, para pahlawan itu tidak mengenal istilah nasionalisme ketika itu. Mereka berjuang karena dorongan akidah Islam mengingat penjajah mulai menginjak-injak harga diri mereka sebagai manusia. Parahnya lagi, para penjajah itu mulai bertingkah dengan visi mereka sebagai misionaris yaitu berusaha memurtadkan penduduk nusantara yang notabene muslim untuk menjadi Kristen. Jadi, sudah saatnya jalannya sejarah yang gak bener itu untuk kembali diluruskan. Dengan cara inilah, jasa para pahlawan itu akan terlihat jelas sehingga generasi muda mampu menghargainya dengan bingkai sejarah kejujuran.

Langkah kedua untuk menghargai jasa para pahlawan adalah menjalankan roda pemerintahan negeri ini dengan baik dan benar. Baik artinya adalah dikelola oleh mereka yang memang orang baik di bidangnya. Bukan hanya professional namun juga berahlak mulia sehingga jauh dari niat dan tindakan korupsi ataupun hal-hal yang merugikan rakyat. Benar artinya adalah negeri ini dikelola dengan aturan yang benar. Aturan yang benar ini sudah diberikan panduannya oleh Yang Mahamemiliki Kebenaran berupa syariat Islam dalam segenap aspek kehidupan, bukan Cuma kalo mati dan kawinan saja Islam baru dipake.

Langkah selanjutnya adalah menjadikan sejarah itu sebagai cermin untuk melangkah ke depan. Sejarah kelam jangan ditutupi namun jadikan pembelajaran agar jangan terulang. Misal sejarah kelam dihapuskannya kalimat ‘dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya’ dari sila pertama Pancasila. Lalu sejarah kelam Tanjung Priok 1984 yaitu dibunuhnya para ulama yang menolak azas tunggal oleh rezim orde baru di bawah LB Moerdani. Gak perlu deh ditutup-tutupi lagi karena toh yang namanya bangkai pasti akan tercium juga.

Hal yang sama berlaku juga dalam sejarah emas Indonesia yaitu berani meluruskan bengkoknya sejarah kebangkitan nasional. Budi Utomo yang jelas-jelas menolak persatuan Indonesia dan menolak pemakaian bahasa Indonesia karena para pimpinannya lebih memilih bahasa Jawa dan Belanda, tidak lagi pantas dijadikan tonggak kebangkitan nasional. Syarikat Islam (SI)-lah yang pertama kali menyadarkan pentingnya persatuan nasional melalui Kongres Nasional Central SI di Bandung. Bila pemerintah berani mengambil langkah kejujuran ini, maka so pasti generasi muda kita gak akan pernah hidup lagi dalam kebohongan sejarah, insya Allah.

….Memperingati hari pahlawan, jadilah pahlawan paling tidak bagi diri kamu sendiri. Pahlawan bukan cuma sebatas skala nasional, tapi Pahlawan Internasional. Bila Islam yang kita bela, sudah tentu nusa dan bangsa termasuk di dalamnya….

Jadilah Pahlawan, bukan Pengkhianat

Memperingati hari pahlawan tahun ini, camkan dalam diri kamu untuk menjadi pahlawan paling tidak bagi diri kamu sendiri. Jangan jadi pengkhianat karena tempat yang pantas buat mereka cuma di neraka. Ih…takut banget kan? Pahlawan bukan cuma sebatas skala nasional, tapi jadilah pahlawan yang lintas batas sebuah bangsa yang sempit. Pahlawan Internasional dengan Islam saja yang layak mendapat pengorbanan kita, bukan nusa dan bangsa. Bila Islam yang kita bela, sudah tentu nusa dan bangsa termasuk di dalamnya. Tapi bila membela nusa dan bangsa, belum tentu kita masuk surga karena sungguh Rasulullah melarang kita untuk berashobiyah alias terpecah-pecah karena kesukuan dan kebangsaan.

Muslim di Malaysia, di China, Amerika, Arab, Inggris, Palestina, di mana pun mereka berada, mereka adalah saudara kita. Jangan sampai kita menjadi pahlawan bangsa dengan membunuh saudara seiman, naudzhubillah. Jadi tak ada gunanya deh bertengkar karena hal sepele dengan Negara tetangga seperti yang sering terjadi selama ini masalah perbatasan atau kesenian. Musuh sebenarnya kita adalah kapitalisme yang diemban oleh Amerika dan sekutunya untuk dipaksakan pada kita. Bila kita lengah dan menjadi pengikutnya kayak sebagian besar kebijakan negeri si Komo ini, maka sungguh kita telah menjadi pengkhianat sejati. Pengkhianat bagi negeri, rakyat sendiri, dan hati nurani.

….Semua ada di tangan kita untuk memilih, akan menjadi pahlawan ataukah pengkhianat? Dan semua perbuatan sudah pasti akan ada pertanggungjawaban masing-masing….

Semua ada di tangan kita untuk memilih, akan menjadi pahlawan ataukah pengkhianat? Dan semua perbuatan sudah pasti akan ada pertanggungjawaban masing-masing, tidak hanya di dunia namun di akhirat. KPK dunia mah kecil, tapi KPK di hadapan Allah, siapa yang bakal bisa bertahan? So, tancapkan dalam hatimu bahwa kita adalah generasi baru yang akan menghargai jasa pahlawan tidak sebatas symbol saja, tapi dalam tataran nyata dengan Islam saja sebagai pedoman. Setuju? Harus itu!

voa-islam.net

Penangkapan Bendahara JAT, Nyali Densus Dipertanyakan?


SOLO (voa-islam.com) – Nyali Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror kembali dipertanyakan. Setidak-tidaknya nyali itu dipertontonkan Densus saat penangkapan Joko Daryono, Aminul Mal (Bendahara) Jama’ah Anshorut Tauhid pusat.

Di lingkungan setempat, pria berusia 42 tahun yang akrab disapa Pak Joko atau Ustadz Thoyyib ini dikenal sebagai sosok biasa saja, sedangkan hubungan dengan masyarakat sangat baik. Salah seorang warga setempat, Sehono (25), mengatakan, Joko Daryono juga diketahui sering menjadi imam di Masjid Al-Hikmah di desa setempat.

Maka seorang sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya, mengaku, kaget ketika sekitar sepuluh anggota densus secara tiba-tiba datang ke tempat itu dan menggerebek rumah tersebut. Ia mengaku heran dan tidak menyangka dengan penangkapan tersebut.

….Pak Joko atau Ustadz Thoyyib ini dikenal sebagai sosok biasa saja,  hubungan dengan masyarakat sangat baik. Ia sering menjadi imam di Masjid Al-Hikmah. Warga  kaget, heran dan tidak menyangka dengan penangkapan tersebut…..

Menurut keterangan dari keluarga serta saksi-saksi yang melihat langsung peristiwa penggrebegan, Joko ditangkap di rumahnya, RT 03 RW 01, Dukuh Ngemplak, Desa Gentan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (18/11/2010).

Warga merasa heran, untuk menangkap satu orang warga sipil yang tidak membawa senjata apapun, kenapa Densus harus mengerahkan puluhan personil bersenjata lengkap? Perilaku tak berperikemanusiaan pun dilakukan terhadap satu orang warga sipil yang tak berdaya itu. Teknisnya penangkapannya pun memakai gaya lama, tanpa disertai surat penangkapan. Surat Penangkapan terhadap aktivis Muslim yang diduga teroris baru diserahkan kepada pihak keluarga beberapa hari kemudian.

Pasca penangkapan Joko, anggota Densus 88 masih mendatangi rumahnya, sehingga pihak keluarga dan masyarakat bertanya-tanya, apa lagi yang dicari Densus 88? Padahal orang yang mereka duga teroris sudah mereka tangkap.

Dengan gaya koboinya, anggota Densus menakut-nakuti semua orang yang ada disekitar rumah tersebut. Dari rumah Joko, Densus hendak membawa sebuah brankas besi, tapi dicegah oleh Bu Eli, istri Joko sambil berkata, “Sudah pak, daripada kecewa, brankas itu tidak ada apa-apanya, itu punya Farouk anak saya. Kalau tidak percaya buka saja!”

Suasana pun makin tegang. Pihak keluarga melarang brankas dibawa Densus, sementara Densus masih mencurigainya sebagai alat bukti terorisme. Mau membuka di tempat, Densus nampak ragu. Maka Densus tersebut balik bertanya dengan nada emosi, “Mana Farouk?”

….Kepada bocah yang masih ingusan itu, Densus minta tolong agar membuka brankas tersebut. Padahal di dalamnya hanya ada mainan anak-anak.  Tak ada bom, bahan peledak, alarm atau remote bom seperti yang ditakutkan…..

Farouk, bocah kecil yang tidak tahu apa-apa itu pun menghadap Densus. Kepada bocah yang masih ingusan itu, Densus minta tolong agar membuka brankas tersebut. Dengan sangat ketakutan, anak kecil yang sangat polos itu kemudian maju dan membuka brankas besi itu dengan menggunakan kode nomor kunci. Dan benar saja di dalamnya hanya ada mainan anak-anak.  Tak ada bom, bahan peledak, alarm atau remote bom seperti yang ditakutkan.

“Ah, Densus! Gayanya segede gajah, tapi nyalinya sekecil semut,” ketus seorang warga mendengar kisah penggerebegan aktivis Muslim yang diduga teroris.

voa-islam.net/news/indonesia/2010/11/20/11922/penangkapan-bendahara-jat-nyali-densus-dipertanyakan/

Misteri Hisapan Ombak aneh Parangtritis Dibuktikan Secara Ilmiah


Para praktisi ilmu kebumian menegaskan bahwa penyebab utama hilangnya sejumlah wisatawan di Pantai Parangtritis, Bantul, adalah akibat terseret rip current. Dengan kecepatan mencapai 80 kilometer per jam, arus balik itu tidak hanya kuat, tetapi juga mematikan.

Kepala Laboratorium Geospasial Parangtritis I Nyoman Sukmantalya mengatakan, sampai sekarang informasi mengenai rip current amat minim. Akibatnya, masyarakat masih sering mengaitkan peristiwa hilangnya korban di pantai selatan DI Yogyakarta dengan hal-hal yang berbau mistis. Padahal, ada penjelasan ilmiah di balik musibah tersebut.

Arus balik merupakan aliran air gelombang datang yang membentur pantai dan kembali lagi ke laut. Arus itu bisa menjadi amat kuat karena biasanya merupakan akumulasi dari pertemuan dua atau lebih gelombang datang.

“Bisa dibayangkan kekuatan seret arus balik beberapa kali lebih kuat dari terpaan ombak datang. Wisatawan yang tidak waspada dapat dengan mudah hanyut,” demikian papar Nyoman.

Celakanya, arus balik terjadi begitu cepat, bahkan dalam hitungan detik. Arus itu juga bukan hanya berlangsung di satu tempat, melainkan berganti-ganti lokasi sesuai dengan arah datangnya gelombang yang juga menyesuaikan dengan arah embusan angin dari laut menuju darat.

Nyoman melanjutkan, korban mudah terseret arus balik karena berada terlalu jauh dari bibir pantai. Ketika korban diterjang arus balik, posisinya akan mudah labil karena kakinya tidak memijak pantai dengan kuat.

“Karena terseret tiba-tiba dan tidak bisa berpegangan pada apa pun, korban menjadi mudah panik, dan tenggelam karena kelelahan,” lanjutnya.

Staf Ahli Pusat Studi Bencana Universitas Gadjah Mada, Djati Mardianto, mengatakan, apabila korban tetap tenang saat terseret arus, besar kemungkinan baginya untuk kembali ke permukaan. “Karena arus berputar di dasar laut sehingga materi di bawah bisa naik lagi,” ujar Djati.

Setelah mengapung, korban bisa berenang ke tepi laut, atau membiarkan diri terhempas ke pantai oleh gelombang datang lain. Setidak-tidaknya, korban memiliki kesempatan untuk melambaikan tangan atau berteriak minta tolong.

Bagaimana dengan korban hilang? Djati mengatakan, hal itu dapat terjadi apabila korban terlalu kuat melawan arus saat berada di dalam air sehingga urung mengapung.

Sebaliknya, korban akan semakin jauh terseret arus bawah laut dan bisa tersangkut karang atau masuk ke dalam patahan yang berjarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai.

Di dasar patahan yang kedalamannya mencapai ratusan meter itu, korban akan semakin sulit bergerak karena ia bercampur dengan aneka materi padat yang terkandung dalam arus.

Korban akan diperlakukan sama seperti material, yakni diendapkan. Korban baru bisa kembali terangkat ke permukaan jika ada arus lain yang mengangkat sedimen dari dasar laut. Namun, ia mengatakan, biasanya hal itu butuh waktu lama.

Meski sulit diperkirakan kedatangannya, arus balik sebenarnya bisa dikenali. Menurut Nyoman, permukaan arus balik terlihat lebih tenang daripada gelombang datang yang berbuih. Selain itu, arus balik biasa terjadi di ujung-ujung cekungan pantai dan warnanya keruh karena membawa banyak materi padat dari pantai.

Masalahnya, banyak wisatawan justru senang bermain di pantai yang tenang karena dianggap lebih aman. “Padahal, lokasi tersebut amat berbahaya,” kata Nyoman.

Sejauh ini, cara terbaik untuk mengurangi risiko bencana terseret arus di pantai adalah dengan tidak bersikap nekat berenang ke tengah laut. Pengunjung harus benar-benar mematuhi rambu larangan berenang yang dipasang tim search and rescue (SAR) di sepanjang pantai.

Selain itu, kondisi cuaca juga harus dipertimbangkan. Gelombang laut akan membesar di musim penghujan karena terpengaruh angin barat. Berenang di laut pada malam hari pun sebisa mungkin dihindari karena arus balik akan menguat akibat terpengaruh pasang.

Menurut kedua pakar geomorfologi pesisir itu, tidak ada pantai di DIY yang aman. Semua memiliki potensi arus balik yang kuat. Bahkan, di sejumlah pantai di Gunung Kidul, arus balik kian diperkuat oleh buangan air sungai bawah tanah.

Pemerintah daerah juga bisa mempelajari pola-pola arus balik dengan melakukan pengamatan rutin sepanjang tahun menggunakan citra satelit beresolusi tinggi, seperti citra Quickbird dan IKONOS. Kedua satelit itu bisa merekam dengan jelas benda yang berukuran kecil hingga ukuran satu meter.

“Sejauh ini, penelitian ke arah sana baru sebatas pada skripsi mahasiswa. Belum ada penelitian yang mendalam dan menghasilkan rekomendasi kebijakan,” papar Djati.

Nyoman mengatakan, ketinggian air sepaha orang dewasa sudah cukup bagi arus balik untuk menyeret orang ke tengah laut. Paling aman, usahakan air hanya sampai ketinggian mata kaki.

Kita mungkin dapat melihat suatu arus balik dari suatu tempat yang lebih tinggi di pantai, atau dapat juga bertanya dengan penjaga pantai yang bertugas atau dengan penduduk setempat yang tahu di lokasi mana terdapat rip current.

Berdasarkan pengamatan, sifat-sifat Rip Current dapat diketahui dengan :

1. Melihat adanya perbedaan tinggi gelombang antara kiri-kanan dan antaranya. Tinggi gelombang pada bagian kiri dan kanan lebih besar dari antaranya.

2. Meletakkan benda yang dapat terapung. Bila benda tersebut terseret menuju off shore maka pada tempat tersebut terdapat Rip Current.

3. Melihat kekeruhan air yang terjadi, dimana air pada daerah surf zone tercampur dengan air dari darat. Bila terlihat air yang keruh menuju off shore, maka tempat tersebut terdapat Rip Current. Kejadian ini dapat dilihat dengan jelas dari tempat yang lebih tinggi

Tips / Cara / Usaha yang harus dilakukan bila terseret rip current, adalah sebagai berikut :

1. Jika terperangkap dalam arus seret ke tengah laut, jangan mencoba untuk berenang melawan arus (ke tepi pantai),

2. Tenanglah untuk sementara mengikuti arus. Secepat arus seret berada di luar penghalang, atau kecepatan arus melambat dan kita merasa sedikit bebas dari pergerakan air yang cepat,

3. Berenanglah ke area di sebelah kiri / kanan kita dan baru kemudian berenang kembali ke arah pantai (atau mengikuti gelombang menuju pantai). Tentu saja kita harus tetap menjaga untuk tetap berada di luar arus seret tersebut.

www.apakabardunia.com

Ruhut: Tak Merasa Bersalah, Gayus Harus Dihukum Mati!


Jakarta (voa-islam.com) – Semua orang geregetan dengan ulah Gayus Tambunan yang masih saja menyuap saat di tahanan. Termasuk Anggota Komisi III DPR, Ruhut Sitompul. Ruhut geram dan meminta agar Gayus dihukum mati saja.

“Walaupun aset sudah disita, dia bisa mengancam menyanyi kepada mafia di luar kalau dia tidak dikasih uang. Kayaknya dia tidak merasa berdosa, saya kira Gayus harus dihukum mati biar tidak melakukan perbuatannya menyuap polisi lagi,” ujar Ruhut, Sabtu (13/11/2010).

…Kayaknya dia tidak merasa berdosa, saya kira Gayus harus dihukum mati biar tidak melakukan perbuatannya menyuap polisi lagi,” ujar Ruhut…

Ruhut meminta Gayus dihukum mati bukan tanpa sebab. Ruhut tak mau Gayus melenggang bebas dari tahanan karena membeli hukum. “Apalagi saya lihat ada penilaian psikolog dia psikopat, itu kan bahaya, dia bias-bisa tidak dihukum dan bebas begitu saja,” keluh Ruhut.

Ruhut kemudian berharap Polri terus mengembangkan kasus Gayus hingga mengarah ke sejumlah oknum di luar penjara yang terus mensuplai uang kepada Gayus. Menurut Ruhut, Gayus sudah menjadi sosok yang ditakuti di kalangan mafia pajak.

“Dalam kasus ini perlu dikembangkan, jangan Gayus tambunan sudah menjadi jagoan dia sudah merasa punya ATM dimana-mana yaitu orang yang bersekongkol dengan dia dalam penggelapan pajak,” papar Ruhut.

Di internal Kepolisian, Ruhut mendorong agar terus dilakukan pembersihan. Ruhut curiga Gayus sudah menyuap sejumlah aparat Kepolisian.

“Oleh karena itu semua oknum yang terlibat dengan Gayus sampai petingginya di Kepolisian harus dihukum seberat-beratnya sampai dipecat karena sangat mencoreng citra penegakan hukum kita di tengah musibah,” pinta Ruhut.

Kepada Kapolri, Ruhut meminta terus mendorong anak buahnya mengusut kepergian Gayus ke Bali. Menurut Ruhut, hal ini sangat mencoreng citra penegakan hukum di Indonesia. “Saya yakin Kapolri tidak terlibat. Tapi saya minta Kapolri jemput bola usut ini,” pungkasnya.

Prof Achmad Ali: Gayus Memang Layak Dihukum Mati

Sementara itu, Prof Achmad Ali menilai suap menyuap sepertinya sudah menjadi ‘hobi’ Gayus Tambunan. Karena ‘hobi’ jeleknya yang merugikan ini Gayus dinilai layak dihukum mati.

“Dia ini sudah melakukan kejahatan yang berulang. Pasti ada jeratan pidana barunya. Harus dihukum berat, layak dihukum mati,” ujar pengamat hukum pidana Prof Achmad Ali dalam diskusi di Warung Daun, Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (13/11/2010).

…”Orangnya ini mentalnya sudah parah, jago menyuap” ujar Prof Achmad Ali…

Bila tidak ada hukuman yang berat dan tegas, Ali khawatir kasus serupa akan terulang lagi dengan aktor yang berbeda. Selain itu tanpa hukuman berat Gayus juga bisa mengulangi lagi. “Orangnya ini mentalnya sudah parah, jago menyuap,” sambung pengajar Unhas ini.

Dari informasi yang berkembang, orang yang melakukan suap untuk keluar rutan bukan hanya Gayus. Karena itu butuh hukuman yang bisa menimbulkan efek jera.

“Sanksi untuk petugas yang terima suap juga jangan hanya sekadar dipecat tapi juga dipidanakan,” sambung Ali.

Ketua MK: Jangan Sampai Gayus Mati Kasusnya Habis

Senada dengan itu, menurut Mahfudz MD, Gayus Tambunan dinilai tak ubahnya wistle blower menyusul terungkapnya kasus suap terhadap Rutan. Karena itu keamanan dan keselamatan Gayus harus dijamin selama di dalam tahanan.

Hal tersebut dikatakan Ketua MK, Mahfudz MD, di sela diskusi radio bertajuk ‘Kejaksaan dalam Kandungan’. Diskusi berlangsung di resto Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (13/11/2010). “Gayus harus diselamatkan, jangan sampai dia meninggal lalu habis kasusnya,” kata Mahfudz.

Sebelumnya dia menyatakan apresiasi terhadap Kapolri Timur Pradopo yang telah bertindak cepat dengan menggelar penyelidikan internal. Sebab memang patut diduga ada jaringan yang lebih besar di balik praktek suap terhadap Karutan Mako Brimob, Iwan Siswanto.

“Ini harus dibongkar tuntas. Jadi bukan cuma Gayus dan petugas rutan, tetapi lebih luas lagi,” tegas Mahfudz. Bekas Menteri Pertahanan ini menyatakan harapannya kepada Kapolri Timur Pradopo. Mahfudz yakin Timur mampu melaksanakan pembersihan jajaran Polri dari ulah para oknum.

“Saya menaruh harapan besar kepada Pak Timur untuk bisa mengungkapnya. Pak Timur bukan orang dalam, jadi tidak tersandera oleh kepentingan apapun,” ujarnya.

Seperti diketahui, seorang pria yang wajah dan perawakannya sangat mirip Gayus Tambunan terlihat menonton turnamen tenis Commonwealth Bank Tournament of Champions 2010 di Nusa Dua, Bali, Jumat (12/11) pekan lalu. Pria tersebut mengenakan kacamata dan berambut tebal lurus yang diduga wig.

Belakangan terungkap, Gayus Tambunan sering tidak berada di dalam sel tahanannya di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Kepada penyidik Bareskrim Mabes Polri, terdakwa kasus mafia pajak itu mengaku ‘menyetor’ Rp 50 juta sampai Rp 60 juta kepada Karutan Mako Brimob, Iwan Siswanto, untuk mendapatkan keleluasaan itu.

voa-islam.net/news/indonesia/2010/11/13/11856/ruhut-tak-merasa-bersalah-gayus-harus-dihukum-mati